Buku
Rp. 230,000
Deskripsi

Bagi masyarakat di Huaulu dan Negeri Sepa (Dusun Hahualan dan Rohua), hutan sebagai jagad besar tidak hanya menjadi sumber kehidupan mereka tapi juga jiwa yang mesti dilestarikan. Sehingga berlakulah 'pamali' sebagai sikap mempercayai pantangan yang masih dipegang teguh, agar ruh Oyang (nenek moyang) selalu menjaga keselamatan tanah Ibu dan jiwa mereka.


Tanah sebagai Ibu yang mesti dihormati Tiang numa sengaja ditancapkan di tanah, agar kayu terpilih yang berasai dar hutan rujukan tetap merasakan tanah sebagai pijakan utamanya. Numa dibaratkan tubuh manusia sebagai cerminan jagad kecil. yang terbagi atas kepala, badan dan kaki, ditopang struktur kuat kayu yang tersambung dan terikat tanpa paku. Daun sagu menjadi penutup atap yang menjaga penghuninya dari terik matahari dan basah air hujan tercurah dari 'Langit sebagai Bapak' yang menaungi.


Melihat Arsitektur di pedalaman pulau Seram dalam kunjungan yang terbilang singkat selama tiga minggu inı, mahasiswa Departemen Arsitektur FTUI mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk belajar mengenal diri kembali. Huaulu dan Negeri Sepa telah mengajarkan kepada mahasiswa- mahasiswa yang selama ini terpapar dengan kehidupan kota yang modern ini suatu kearifan lain dalam memahami arsitektur secara teraga maupun tidak-teraga. Pengalaman di Huaulu dan Negeri Sepa juga telah mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan menjelajah ruang, waktu, dan budaya setempat yang tidak pernah habis-habisnya menjadi mata air pengetahuan untuk dipelajari. 


- Prof Dr Kemas Ridwan Kurmiowan ST MS

#KenaliNegerimu

#RimbaBerbubungRumbid